Tampilkan postingan dengan label persamaan hak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persamaan hak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2008

Islam Mengajarkan Keadilan, Bukan Persamaan dalam Segala Hal

Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi


الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa`: 34)

Penjelasan Mufradat Ayat
قَوَّامُونَ
Qawwamun adalah jamak dari qawwam, yang semakna dengan kata qayyim. Artinya adalah pemimpin, pembesar, sebagai hakim dan pendidik, yang bertanggung jawab atas pengaturan sesuatu. Namun kata qawwam memiliki arti yang lebih dari qayyim. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Baghawi)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam menjelaskan ayat ini mengatakan: “Qawwam artinya pemimpin, di mana wajib atas seorang istri taat kepadanya sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan baginya untuk taat kepada suami, serta menaatinya dengan berbuat baik kepada keluarganya dan menjaga hartanya.” (Tafsir Ath-Thabari)
وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”, meliputi seluruh jenis nafkah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan atas kaum laki-laki untuk kaum perempuan di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Baik berupa mahar pernikahan, berbagai macam nafkah dalam keluarga, dan beban-beban lainnya.
قَانِتَاتٌ
Maknanya adalah wanita-wanita yang taat kepada suaminya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan yang lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir)
حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ
“Memelihara diri ketika suaminya tidak ada”, yaitu para wanita yang senantiasa memelihara suaminya, dengan cara memelihara kehormatan dirinya dan menjaga harta suaminya.
بِمَا حَفِظَ اللهُ
Yang terpelihara adalah yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penjelasan Ayat
Al-Allamah As-Sa’di t berkata:
“(Allah) Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa kaum lelaki itu pemimpin atas kaum wanita, yaitu menjadi penegak atas mereka dalam memerintahkan mereka untuk melaksanakan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar memelihara kewajiban-kewajiban dan mencegah mereka dari berbagai kerusakan. Maka kaum lelaki wajib memerintahkan hal tersebut kepada kaum wanita dan menjadi penegak atas mereka. Juga dalam hal memberi nafkah, pakaian, dan tempat tinggal kepada mereka.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sebab yang mengharuskan kaum lelaki mengurusi para wanita. Dia berfirman “dengan apa yang telah Allah utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan dengan apa yang mereka beri nafkah dari harta-harta mereka”, yaitu dengan sebab keutamaan kaum lelaki atas kaum wanita serta diberikannya kelebihan atas mereka.
Diutamakannya kaum lelaki di atas kaum wanita dari berbagai sisi: dari sisi memegang kepemimpinan dalam negara hanya dikhususkan bagi kaum lelaki; kenabian, kerasulan; dikhususkannya mereka dalam sekian banyak dari perkara ibadah seperti berjihad, melaksanakan (shalat) hari raya, dan Jum’at. Juga dari sisi yang Allah Subhanahu wa Ta’ala khususkan kepada mereka berupa akal, ketenangan, kesabaran, kekuatan yang mana para wanita tidak memiliki yang semisal itu. Demikian pula mereka dikhususkan dalam memberi nafkah kepada istri-istri mereka. Bahkan kebanyakan pemberian nafkah tersebut khusus menjadi tanggung jawab kaum laki-laki. Inilah yang membedakan mereka dari kaum wanita. Dan mungkin ini rahasia dari firman-Nya “dengan apa yang mereka memberi nafkah ...” dan obyeknya tidak disebutkan, untuk menunjukkan keumuman nafkah.
Dari semua ini, diketahuilah bahwa seorang laki-laki berkedudukan seperti pemimpin, tuan di hadapan istrinya. Dan istri di hadapan suami bagaikan tawanan dan pelayannya. Maka tugas seorang lelaki adalah menegakkan tanggung jawab pemeliharaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya. Sedangkan tugas wanita adalah taat kepada Rabb-nya kemudian taat kepada suaminya.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wanita-wanita yang shalihah dan yang tunduk”, yaitu taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, “memelihara diri di saat suaminya tidak ada”, yaitu senantiasa taat kepada suaminya walaupun suami tidak ada di sisinya, memelihara suaminya dengan menjaga diri dan hartanya. Hal itu merupakan bentuk pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang memberi taufiq kepada mereka (untuk melakukannya), bukan dari jiwa mereka sendiri. Sebab jiwa tersebut selalu memerintahkan kepada keburukan. Namun siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kecukupan padanya dengan apa yang dia butuhkan dari perkara agama dan dunianya.” (Tafsir Taisir Al-Karim Ar-Rahman)

Islam adalah Agama yang Mengajak kepada Keadilan, bukan Persamaan dalam Segala Hal
Ayat ini menjelaskan bahwa kaum pria memiliki perbedaan dengan kaum wanita. Juga, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kelebihan kepada pria dalam hal kepemimpinan yang tidak dimiliki oleh kaum wanita. Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
“Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (Al-Baqarah: 228)
Oleh karena itu, Islam memerintahkan untuk memberikan hak kepada masing-masing yang memiliki hak. Inilah yang disebut keadilan. Adil bukanlah persamaan hak dalam segala hal. Namun adil adalah menempatkan setiap manusia pada tempat yang selayaknya dan semestinya, serta menempatkan segala sesuatu pada posisinya yang telah diatur dalam syariat-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada keadilan dan bukan kepada persamaan antara sesama manusia dalam segala hal. Firman-Nya:
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (An-Nisa`: 58)
Dan firman-Nya:
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90)
وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ma`idah: 8)
Dan ayat-ayat yang berkenaan tentang masalah ini sangat banyak sekali. Sedangkan persamaan antara sesama manusia bukanlah ajaran Islam. Bahkan Islam senantiasa menyebutkan perbedaan antara satu dengan yang lainnya sesuai standar syariah dan kemaslahatan yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan antara yang muslim dan yang kafir, yang taat dan yang berbuat kemaksiatan, dalam firman-Nya:
لا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 20)
Dan firman-Nya:
أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي اْلأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ
“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (Shad: 28)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membedakan antara orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu, dalam firman-Nya:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو اْلأَلْبَابُ
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang adanya perbedaan kedudukan manusia dan tidak menyamakan antara mereka. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari Dzulkhuwaishirah yang menginginkan agar pembagian harta rampasan perang dilakukan secara merata serta menganggap bahwa hal tersebut termasuk keadilan.
Dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,, beliau berkata: “Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang membagi harta berupa emas, maka datanglah Abdullah bin Dzulkhuwaishirah At-Tamimi lalu berkata: ‘Berbuat adil-lah engkau, wahai Rasulullah.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Celaka engkau, siapakah yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?’ Umar lalu berkata: ‘Izinkan saya untuk memenggal lehernya.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Biarkan dia, karena sesungguhnya dia memiliki pengikut, yang salah seorang kalian menganggap rendah shalatnya dibandingkan shalat mereka, puasanya dibandingkan puasa mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6534)
Dalam riwayat Muslim t disebutkan bahwa tatkala ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu datang dari negeri Yaman membawa emas yang masih bercampur tanah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaginya untuk empat orang: ‘Uyainah bin Hisn, Al-Aqra’ bin Habis, Zaid Al-Khail, yang keempat ‘Alqamah bin Ulatsah atau ‘Amir bin Ath-Thufail. Lalu datanglah Dzulkhuwaishirah tersebut.... (HR. Muslim no.1064)
Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membagi rata harta yang beliau dapatkan tersebut. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kepada orang yang beliau pandang lebih mendatangkan kemaslahatan untuk diri orang tersebut. Di dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Sa’d, sesungguhnya aku memberikan (harta) kepada seseorang, padahal yang lain lebih aku cintai daripada orang yang kuberi tersebut, karena aku khawatir orang tersebut dilemparkan Allah ke dalam neraka.” (HR.Al-Bukhari no. 27, Muslim no. 150)
Demikian pula halnya antara kaum laki-laki dan perempuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia untuk berbuat adil kepada mereka dengan memberikan hak kepada yang berhak menerimanya, sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat. Sebab, menyamakan antara pria dan wanita dalam segala sesuatu adalah suatu hal yang bertentangan dengan fitrah dan syariat. Bagaimana tidak, dari sisi penciptaan saja mereka sudah berbeda. Di antaranya:
 Wanita memiliki fisik dan jenis kelamin yang berbeda dengan kaum lelaki
 Wanita lebih lemah dibanding kaum lelaki
 Wanita melahirkan, tidak demikian halnya kaum lelaki
 Wanita mengalami masa haid, kaum lelaki tidak
Dan masih banyak lagi perbedaan di antara keduanya.
Maka dari itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha mengetahui kemaslahatan hamba-Nya, menempatkan mereka pada posisinya masing-masing. Di antara perbedaan antara keduanya dari sisi syariat adalah:
 Wanita diperintahkan berhijab dengan menutupi seluruh tubuhnya, tidak demikian halnya kaum lelaki.
 Wanita dianjurkan tinggal di rumahnya dan tidak keluar dengan ber-tabarruj (bersolek), tidak demikian halnya kaum lelaki.
 Lelaki menjadi pemimpin rumah tangga dan melindungi para wanita yang lemah.
 Lelaki mendapatkan warisan dua kali lipat dibanding wanita.
Dan perbedaan lainnya yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang lebih mengetahui kemaslahatan para hamba-Nya tersebut.

Lelaki adalah Pemimpin dalam Bernegara dan Berumah tangga
Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia ini menjelaskan bahwa seorang lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, dan seorang wanita adalah berada di bawah perlindungan dan pemeliharaan lelaki. Oleh karena itu, seorang wanita tidak boleh diberi tanggung jawab sebagai pemimpin yang membawahi kaum lelaki, karena hal tersebut bertentangan dengan keadaan penciptaan wanita itu sendiri yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Hal ini dapat mengantarkan kepada kerusakan dan kehancuran.
Di dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari t dari hadits Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Tatkala sampai berita kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa penduduk Persia mengangkat seorang anak wanita Kisra1 (gelar raja Persia) sebagai pemimpin yang memimpin mereka, maka beliau bersabda:
لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang mereka menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi, bab Kitabun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ila Kisra wa Qaishar, 7/4425 bersama Al-Fath)
Al-Hafizh t setelah menyebutkan hadits ini berkata: “Al-Khaththabi berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa seorang wanita tidak boleh memegang kepemimpinan dan qadha` (menjadi hakim).” (Fathul Bari, 7/735)
Dan tidak ada perselisihan di kalangan para ulama tentang tidak diperbolehkannya kaum wanita menjadi pemimpin negara. (lihat penukilan kesepakatan tersebut dalam Adhwa`ul Bayan, Asy-Syinqithi t, 1/75; Al-Qurthubi t dalam tafsirnya menukil dari Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul ‘Arabi t, 13/183, Ahkamul Qur`an, Ibnul ‘Arabi, 3/482)
Demikian pula dalam hal berumah tangga. Seorang suami adalah pemimpin dan penanggung jawab atas rumah tangganya. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاس رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلىَ أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُمْ، وَالْـمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلىَ مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemelihara, maka dia bertanggung jawab atas apa yang dia pelihara. Seorang penguasa adalah pemelihara atas rakyatnya dan dia bertanggung jawab atas mereka. Seorang lelaki adalah pemelihara atas keluarganya dan dia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemelihara atas rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab atas mereka. Seorang budak adalah pemelihara atas harta tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah pemelihara dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipeliharanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Akan tetapi, tatkala kaum lelaki memiliki kelebihan dari satu sisi, bukan berarti kedudukan wanita di dalam Islam tersebut menjadi rendah. Sebab, yang menjadi standar kemuliaan seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ketakwaan. Apabila seorang wanita senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, taat kepada suami, memelihara kehormatan diri, menjaga harta suami di saat ia ditinggal, maka dia akan mendapatkan jaminan surga yang tidak didapatkan oleh kebanyakan kaum lelaki yang tidak memiliki ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْـمَرْأَةُ خَـمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَـهَا: ادْخُلِي الْـجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْـجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, memelihara kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki’.” (HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami' no. 660)

1 Wanita ini bernama Buuraan bintu Syairawaih bin Kisra, disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Fathul Bari menukil dari Ibnu Qutaibah. (Fathul Bari, 7/735)

sumber:
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=614

Kamis, 06 November 2008

PERSAMAAN HAK BERASASKAN SIFAT UBUDIYAH KEPADA ALLAH

Tuan Guru Nik Aziz

SESUNGGUHNYA prinsip keadilan dan persamaan hak dalam Islam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi s.a.w. melalui peristiwa al-Ahzab, tidak boleh disamakan atau dibandingkan dengan fahaman demokrasi barat. Walaupun demokrasi itu membawa makna kepada persamaan hak dan kebebasan individu dalam mendapatkan keadilan, sebagaimana yang difahami oleh kebanyakan manusia hari ini.

Tidak seyogia menyamakan prinsip keadilan dan persamaan hak dalam Islam yang berasaskan sifat ubudiyyah kepada Allah SWT, dengan fahaman demokrasi ciptaan manusia itu.

Malah ditegah sama sekali menggunakan perkataan demokrasi terhadap kerja-kerja Nabi s.a.w. khususnya ketika melaksanakan tanggungjawab kepimpinan semasa membuat persiapan menghadapi perang al-Ahzab. Tiada sebarang kaitan antara prinsip keadilan dan persamaan hak yang diajar oleh Nabi s.a.w. kepada para sahabat, dengan fahaman demokrasi yang dilaungkan oleh barat.

Pihak orientalis sering mengaitkan perkataan demokrasi ketika mengulas kerja-kerja Nabi s.a.w. itu, tindakan musuh-musuh Islam itu sememangnya berniat jahat. Mereka berusaha supaya kelak orang akan menganggap tiada bezanya antara kedua-dua fahaman itu. Inilah niat buruk mereka terhadap Nabi s.a.w.

"Mengapa mesti mengadakan suatu peraturan yang lain, yang boleh menimbulkan kekeliruan, sama ada hendak membesarkan Allah SWT atau mengagungkan manusia dalam urusan ibadat."

Amat jelas bahawa persamaan hak dalam Islam itu adalah berasaskan sifat ubudiyyah atau beribadat kepada Allah SWT. Islam menganjurkan keadilan dalam semua bidang kehidupan, sebagaimana seruan Allah SWT melalui firman-Nya yang bermaksud: "Berlaku adillah kamu, kerana adil itu lebih dekat kepada takwa." (Surah al-Maidah ayat 8).

Justeru apabila Islam menyatakan keadilan dan persamaan hak, maka ia sememangnya menjadi prinsip agama Allah SWT itu. Ia tidak membezakan antara pemimpin dan orang yang dipimpin, di antara pihak yang berkuasa dengan rakyat yang bernaung di bawah kekuasaannya. Semuanya adalah makhluk ciptaan Allah yang bertaraf hamba.

Apa pun kedudukan manusia dalam masyarakatnya, mereka adalah hamba Allah, mereka tetap menerima tanggungjawab (taklif) syarak atau beban hukum yang sama di sisi Allah SWT. Pangkat dan kedudukan tidak menjadikan mereka lebih istimewa di sisi Allah Taala, kecuali mereka yang bertakwa kepada-Nya.

Contohnya persamaan hak dalam Islam dalam perkara ibadat solat jemaah atau solat Jumaah. Nabi s.a.w. menjelaskan dalam beberapa sabdanya mengenai kelebihan atau fadilah beribadat dalam saf pertama di masjid. Orang yang datang awal akan mendapat tempat pada saf pertama, kepada mereka dijanjikan ganjaran besar dan mendapat fadilah serta keutamaan di sisi Allah Taala.

Bagi mereka yang ingin mendapatkan kelebihan beribadat dalam saf pertama di masjid itu, pasti berusaha untuk datang ke masjid lebih awal.

Tidak kira sama ada mereka itu terdiri dari rakyat biasa atau pemimpin yang berkedudukan tinggi dalam negara. Sebagai pemimpin atau ketua negara memang sewajarnya mereka datang awal, agar mereka berada di saf pertama dan menjadi contoh kepada rakyat biasa. Namun jika mereka lewat sampai ke masjid sudah tentu tidak dapat mengerjakan solat pada saf pertama, kerana telah dipenuhi oleh mereka yang datang awal. Sudah semestinya orang yang datang lewat maka tempat mereka ialah pada saf-saf berikutnya dan mungkin di saf belakang.

Oleh kerana masjid itu adalah "Rumah Allah", siapa jua hamba Allah tidak kira apa kedudukan, mempunyai peluang yang sama untuk berlumba meraih fadilah yang dijanjikan oleh Allah SWT. Perlumbaan untuk meraih kebaikan sememangnya suatu yang sihat dan dianjurkan oleh Islam, sebagaimana firman Allah Taala yang bermaksud: "Berlumba-lumbalah kamu dalam membuat kebajikan." (Surah al-Maidah ayat 48).

Dalam mana-mana perlumbaan, yang cepat semestinya berada di hadapan, orang yang lambat akan tertinggal di belakang. Tidak adil jika orang yang datang lambat ke masjid boleh mendapat tempat pada saf pertama, semata-mata kerana orang itu berkedudukan tinggi orang ternama dalam negara.

Lebih malang lagi jika ketidakadilan itu berlaku disebabkan pihak pengurusan masjid sendiri yang menyediakan tempat khas di saf pertama bagi orang-orang tertentu, atas alasan untuk memuliakan dan menghormati kedudukan orang tertentu.

Alasan tersebut tidak selari dengan syariat Islam, kerana yang hendak dimuliakan oleh orang-orang yang berkunjung ke masjid ialah Allah SWT. Justeru itulah disunatkan mendirikan solat sunat "Tahiyyatal Masjid" (solat menghormati masjid) sebagai Rumah Allah SWT.

Sungguh mendukacitakan, syariat Allah telah dinafikan pelaksanaannya di Rumah Allah SWT sendiri. Akibatnya mereka telah merampas hak orang yang datang awal, perbuatan merampas hak orang lain adalah suatu kezaliman.

Allah SWT tidak akan memberi pertolongan kepada orang yang zalim. Sayangnya kezaliman itu dilakukan oleh manusia di rumah Allah SWT sendiri. Allah SWT memberikan keutamaan kepada orang yang datang awal untuk mendapat fadilah saf pertama. Kerana orang yang datang awal adalah tanda mereka mencintai dan mengingati Allah. Sebab itu mereka sering berdahuluan datang ke masjid untuk beribadat kepada-Nya.

Sementara orang-orang datang lambat, adalah menggambarkan sikap sambil lewa mereka terhadap Allah SWT. Tidak hairanlah orang bersikap sambil lewa akan terlepas peluang untuk meraih fadilah dan ganjaran yang banyak dari Allah SWT.

Tiada kemuliaan di sisi Allah bagi manusia yang bersikap smbil lewa dalam melakukan ibadat kepada-Nya, sekalipun mereka seorang yang berkedudukan dan berpangkat tinggi. Firman Allah Taala yang bermaksud: "Sesungguhnya orang yang termulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang lebih bertakwa di kalangan kamu." (Surah al-Hujrat ayat 13).

Jika dalam ruang yang terhad iaitu di masjid, syariat Allah khususnya mengenai prinsip keadilan dan persamaan hak tidak dapat dilaksanakan, maka pihak manakah yang boleh diharap untuk melaksanakan keadilan dan persamaan hak di muka bumi yang luas ini?

Tujuan melakukan ibadat tidak lain hanya untuk membesarkan Allah SWT. Justeru itu tidak wajar mengadakan satu peraturan yang lain, yang bertujuan untuk membesarkan manusia semata-mata kerana pangkat dan kedudukan orang berkenaan.

Mengapa mesti mengadakan suatu peraturan yang lain, yang boleh menimbulkan kekeliruan, sama ada hendak membesarkan Allah SWT atau mengagungkan manusia dalam urusan ibadat.

Selain itu Allah SWT juga mendidik hamba-Nya mengenai prinsip keadilan dan persamaan hak melalui ibadat Haji. Kaum muslimin di seluruh dunia menunaikan kewajipan tersebut, tidak kira sama ada mereka bertaraf pemimpin negara atau rakyat biasa, kaya atau fakir, berpelajaran tinggi atau tidak mempunyai kelulusan.

Mereka berhimpun di Arafah dengan tujuan untuk mengabdi diri kepada Allah SWT. Mereka berhimpun di Arafah untuk menyahut seruan-Nya, datang ke bumi suci dengan pakaian yang membalut tubuh mereka hanya sehelai kain ihram dan selendang berwarna putih tanpa berjahit, seolah-olah tubuh mereka sedang dibaluti kain kapan. Mereka datang hanya untuk mensucikan dan memuji keagungan Allah SWT.

Mereka berkeadaan sedemikian bukan saja untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT melalui ibadat Haji, bahkan ibadat tersebut sebagai tarbiyah kepada mereka khusus untuk menghayati hakikat persamaan hak dan keadilan yang sebenarnya.

Di Arafah mereka melupakan kedudukan masing-masing, pangkat kebesaran dan kedudukan tidak menjadikan taraf dan darjat mereka lebih tinggi berbanding orang lain yang sedang wukuf. Siapa pun diri mereka, tidak lebih hanyalah sebagai hamba Allah SWT, yang diberikan persamaan hak dan keadilan di bumi Allah ini.

Jelaslah bahawa punca persamaan hak dan keadilan Islam itu ialah dari perasaan mengabdikan diri dan bertuhankan kepada Allah SWT.

Tetapi fahaman demokrasi barat ialah berhakim dengan pandangan dan kehendak suara majoriti, ini bererti suara ramai menentukan suatu peraturan dan undang-undang. Seolah-olah mereka bertuhankan kepada kemahuan orang ramai.

Sifat-sifat ubudiyyah mendorong hamba-Nya yang beriman, melaksanakan apa jua yang dikehendaki Allah SWT. Justeru itu apabila Nabi s.a.w. meletakkan diri sama taraf dengan para sahabat dan juga rakyat biasa ketika melakukan kerja-kerja membina parit untuk persiapan menghadapi perang al-Ahzab, maka tidak wajar ia disamakan dengan demokrasi barat, kerana ia telah merendahkan taraf kenabian Nabi Muhammad s.a.w. yang melaksanakan semua perkara atas perintah Allah SWT.

Hasil persamaan hak dalam Islam yang berpunca dari semangat perhambaan (ubudiyyah) Nabi s.a.w. kepada Allah SWT, maka Islam tidak peduli kepada hak-hak istimewa bagi mana-mana golongan dan kedudukan atau jawatan tinggi seseorang itu. Tidak ada sebarang kekebalan (imuniti) individu atau kumpulan di sisi syariat Allah SWT.

Sedangkan demokrasi barat sekadar melaungkan persamaan hak, namun dalam masa yang sama mereka tidak sunyi dari mewujudkan hak-hak istimewa bagi golongan tertentu di pihak atasan. Keistimewaan yang tidak diperolehi oleh rakyat jelata atau golongan bawahan. Demokrasi barat masih terdapat imuniti golongan tertentu. Meskipun terdapat usaha menghapuskan imuniti golongan tertentu di pihak atasan, namun ia dilakukan bukan atas sifat ubudiyyah kepada Allah SWT.

Sebaliknya ia dilakukan atas kehendak demokrasi yang tidak sehat, atau desakan rasa iri hati dan dendam politik. Sudah tentu tindakan itu tidak mempunyai apa-apa nilai di sisi Allah SWT. Jauh sekali untuk mendapat pahala, kerana Allah menilai sesuatu tindakan berdasarkan kepada niat yang ikhlas serta patuh atas arahan-Nya.

sumber asal:

http://arkib_terpilih.tripod.com/i2000_0513.htm